Tamparlah Belenggumu Wahai Syaikh Shalah

Tuesday, 27 July 2010

print this page
send email
Fuad Khafasy

Ditengah situasi dan hiruk pikuknya pembicaraan mengenai Syaikh Shalah, sang terpidana, namun dengan penuh ketenangan, kerelaaan terhadap ketentuan Allah. Ia lebih memilih khalwat di salah satu penjara Israel. Sementara disekitarnya ribuan pendukung dan para pencintanya meneriakan takbir, gegap gempita menunjukan solidaritasnya terhadap Syaikh.

Jauh dari sana, sejumlah pasang mata meneteskan air mata, hati-hati mereka dirambah rasa sedih bercampur dengan kebencian terhadap anak-anak Zionis yang telah sewenang-wenang memperlakukan sang Syaikh.

Namun Syaikh sendiri tampak tersenyum dengan gayanya yang khas, memakai baju biasanya dengan kopiah khas wilayah Palestina. Dandananya jauh dari mewah, tidak ada tanda jasa apapun di pundaknya. Ia berdiri melambaikan tangan kepada para pencintanya. Ia berdiri di pinggir pintu penjara yang akan segera mengurungnya. Seperti biasa ia hanya diam, lalu kepalanya tengadah bersamaan dengan gerakan kepala para pencintanya. Pada saat itu, ada senandung yang didendangkan mangaduk-ngaduk perasaan mengatakan,

Tamparlah belenggumu wahai syaikh Shalah pemimpin ummat

Begitu ringan penjara bagimu, sementara tekadmu membaja

Sikapmu telah mencerabut pohon Gorkod dari tanah waritsan al-Aqsha kita

Telah tiba masanya untuk marah demi melindungi tempat isra Rasul kita

Tamparlah belenggumu, tamparlah belenggumu, wahai syaikh Shalah pemimpin ummat

Engkau adalah penyemangat dari barak-barak luka kami, engkaulah motivasi kami.

Di ujung mata syaikh nampak berkaca-kaca. Ia memperhatikan pergerakan masa yang juga mencucurkan air mata. Namun air mata syaikh adalah air mata kegembiraan atas konsentrasi masa yang mencintainya yang datang untuk memberikan salam dan menyerahkan sang Syaikh pada penjajahan. Nantinya, ialah yang akan mengubah massa tersebut, setelah lima bulan berlalu, tentunya dengan izin Allah. Suatu saat nanti ia akan mengumumkan kegembiraanya yang sangat dengan merayakan kebahagianya atas keluarnya Syaikh dari penjara.

Syaikh Raed Shalah adalah sosok yang telah mempengaruhi perasaan ummat, menyusul berita terbunuhnya di kapal Mavi Marmara saat menjalankan tugas kemanusiaanya memimpin armada kebebasan untuk menghancurkan blockade Gaza.

Kini ia berdiri di depan pintu penjara Ramallah. Ia telah mengirimkan sejumlah pesan kepada semua pihak. Ia mengatakan, aku terlalu tergesa-gesa untuk memasuki ruang khalwat (penjara) ini. Namun mereka tidak akan pernah dapat mengubah tekadku. Kami pun tidak pernah takut terhadap penjara, walaupun sendainya kami kembali ditengkap untuk yang ke empat, lima atau ke enam kalinya.

Ia menambahkan, hanyalah suara takbir yang dapat menghentikan langkahnya. Saya berharap masa tahanan ini segera berakhir, agar saya dapat keluar. Yang paling pertama saya kerjakan adalah shalat dua rakaat di dalam masjid Al-Aqsha yang saya rindukan dan sangat aku cintai. Saya membayangkan dapat makan bersama dengan penduduk Al-Quds yang senantiasa menyambutku.

Ia kembali berkata, izinkan saya agar cepat-cepat berkhalwat, menyendiri dalam penjara. Saya tidak ingin mereka mengira saya takut penjara. Saya katakan, saya ingin cepat-cepat berangkat ke penjara.

Keagungan apa yang engkau miliki wahai Abu Hamas. Kekuatan apa yang engkau miliki sehingga ribuan orang datang dari Golan, Jalil dan segitia Al-Quds. Semua datang untuk mendengarkanmu dan tersenyum bersama senyummu. Mereka mengerutkan dahinya bersama kerutan dahimu. Tamparlah belenggumu wahau pemimpn ummat. Engakau pasti akan dapat menampar mereka dengan izin Allah. Engkau akan keluar sebagaimana engkau masuk. Engkau adalah pemimpin ummat. Kami katakan padamu, “Begitu ringan penjara bagimu, sementara tekadmu membaja”. (asy)
SUMBER

0 comments:

Post a Comment