Tak Ada Perdamaian Tanpa Hamas

Sunday, 1 August 2010

print this page
send email
Jamal Abu Raidah*
Harian Al-Quds Arabi London

Beberapa bulan belakangan di benua Eropa, seruan mengajak berunding dengan Hamas makin keras. Terakhir seruan disampaikan oleh Menlu Perancis Bernard Kouchner. Ia mengatakan, “Tidak akan ada kesepakatan damai tanpa Hamas. Perancis siap berbicara dengan Hamas jika otoritas Palestina memintanya.”

Statemen ini awal peralihan politik positif di tataran penentu kebijakan di Eropa terhadap Hamas. Mereka mulai lebih yakin bahwa mustahil mencapai perundingan politik soal Palestina tanpa melibatkan Hamas. Sebab Hamas sudah menjadi unsur terpenting bagi bangsa Palestina. Tepatnya setelah pemuli legislatif Palestina dimana Hamas meraih 74 kursi dari 132 atau 56 persen dari kursi yang ada. Padaha pemilu itu didanai, diawasi dan didukung negara-negara Eropa.

Dalam tataran ilmiah, suara-suara ini tidak mungkin meninggi jika tidak karena factor berikut:

1. Kegagalan perundingan Palestina – Israel baik tidak langsung atau langsung dalam meraih solusi konflik selama 18 tahun terakhir.

2. Pengaruh opini publik Eropa yang mulai simpati terhadap Hamas dan banyaknya delegasi Eropa yang berkunjung ke Jalur Gaza untuk menembus blokade Israel terhadap wilayah itu sejak tahun 2007.

3. Pragmatisme Hamas dan kemampuannya memadukan agama dan politik jauh dari fanatisme. Ini yang membuat pembuat kebijakan Eropa makin yakin bahwa gerakan ini akan bersikap berbeda dari yang diisukan. Dalam era pemerintahannya di pemerintahan Palestina di Jalur Gaza, Hamas menunjukkan tanggungjawab nasional yang tinggi dan itu dibuktikan Eropa melalui kunjungan resmi para tokoh dan menyatakan kepuasan mereka.

4. Pengaruh komunitas Palestina, Arab dan Islam yang kuat di benua Eropa. Dalam perjalanan waktu, Hamas mendapatkan dukungan kuat dari mereka. Ini pernah dibuktikan dalam aksi massa besar di ibukota-ibukota Eropa mengecam Israel ketika menyerang Gaza tahun 2008 – 2009.

Suara seruan agar melibatkan Hamas dalam perundingan di Eropa ini adalah proses perubahan mengakar di opini public dan bukan kosong muatan. Ini suara serius dan penuh pertanggungjawaban. Dari sana, gerakan Hamas dituntut bergerak perlahan namun pasti serta tenang dalam menyikapi suara-suara yang mendukungnya. Hamas perlu melakukan beberapa hal:

1. Menyambut seruan Uni Eropa untuk berdialog dengannya dengan prinsip fair dan UE menghormati hasil pemilu legislative Palestina tahun 2006.

2. Gerakan Hamas harus merevisi visinya soal proses perundingan damai di kawasan.

3. Merespon opini Eropa dengan bahasa politik yang moderat yang menampik karakter terorisme dimana mesin media Israel dalam beberapa tahun terakhir berhasil memojokkan Hamas melalui perang opini.

4. Berjuang untuk mendapatkan tambahan poin positif di sector-sektor opini Eropa. Ini melalui seruan kunjungan ke Jalur Gaza dan mengamati pemerintah Hamas dalam mengatur kehidupan di Jalur Gaza.

Bernard Kouchner bukan sekedar meminta agar berdialog dengan Hamas. Ia juga menyampaikan kesiapan Peranci berdialog dengan Hamas jika diminta otoritas Palestina. ini mengisyaratkan bahwa otoritas Palestina selama ini terlibat dalam provokasi anti Hamas dan memboikotnya secara politik selama empat tahun terakhir ini. Ini dilakukan oleh Otoritas Palestina dalam rangka mendapatkan kesepakatan politik dengan Israel yang bisa mengembalikan proyek perundingan.

Namun agaknya, otoritas Palestina akan gagal meraih cita-citanya dan akan lebih sulit mencapainya dibanding tahun-tahun sekarang ini. Apalagi setelah Amerika gagal dalam menekan Israel memperpanjang masa pembekuan pemukiman di Tepi Barat dan Al-Quds hingga pertengahan bulan Septermber depan. Sebab secara riil, lampu hijau Uni Eropa untuk mengajar berunding dengan Hamas dalam rangka menyelamatkan perdamaian. Ini tentu karena tidak adanya harapan politik di satu sisi dan makin kuatnya ancaman Israel kepada Iran, Libanaon dan Gaza di sisi lain. (bn-bsyr)

* Peneliti Sejarah Islam

0 comments:

Post a Comment