Netanyahu dan Obama Dua Sisi Satu Mata Uang

Friday, 16 July 2010

print this page
send email
Dr. Aiman Abu Nahiyah
Semua mata terfokus pada pertemuan Netanyahu dan Obama. Sebagian orang yakin bahwa pertemuan hangat itu bisa mengubah banyak kebijakan Israel. Terutama terkait proses perdamaian di Timur Tengah, menghentikan permukiman di wilayah Palestina yang diduduki. Namun sebenarnya keyakinan ini berlebihan. Sebab apa yang bisa dilakukan Obama saat Netanyahu menyatakan dari Amerika di depan AIPAC selama kunjungan sebelumnya bahwa dia tidak kembali ke perundingan tanpa menjatuhkan syarat-syarat Palestina? Bahkan lebih jauh menyatakan bahwa Yerusalem bukan permukiman yahudi tapi ia seperti Tel Aviv dan akan tetap menjadi ibukota bersatu Israel selamanya. Bahkan lebih jauh dari itu Menteri Luar Negeri AS, Hillary Clinton, komitmen negaranya untuk menjaga keamanan negara penjajah Israel dan memberikan dukungan mutlak politik, militer dan ekonomi. Jika ini pendekatan pemerintah AS, lalu apa yang diharapkan dari pertemuan Netanyahu dan Obama?!

Penulis berpikir bahwa pertemuan Senin lalu tidak dilakukan untuk menghentikan pembangunan pemukiman yahudi dan negosiasi perundingan. Tetapi lebih jauh dan dalam dari itu. Karena pada kenyataannya permukiman yahudi tidak pernah berhenti pada setiap negosiasi antara dua pihak sedang berjalan. Permukiman terus berlanjut bahkan setelah penandatanganan kesepakatan yang isinya menghentikan pemukiman. Tentu saja ini akan berimbas negatif pada negosiasi. Sebab tujuan strategis entitas Zionis yang memang didasarkan pada pemukiman, pendudukan (penjajahan), penindasan dan pemaksaan konstan dan selalu didukung oleh Amerika Serikat.

Pemerintah Obama yang sebelumnya telah meminta agar Israel menghentikan total pembangunan pemukiman yahudi agar bisa dimulai perundingan, kini telah menelan keputusan itu dan menjatuhkannya. Karena, menurut Israel permukiman adalah hak-hak alami negara penjajah. Bahkan Amerika menekan Abu Mazen untuk mau menerima bernegosiasi dengan tetap melanjutkan permukiman. Amerika memberian fasilitas kepadanya agar mau "turun dari pohon" dengan mengadopsi keputusan Komite Pemantau Prakarsa Arab yang digagas oleh menteri luar negeri Arab pada pertemuan terakhir mereka bulan lalu di Liga Arab. Inilah yang kemudian menjadi payung dan motivasi untuk menerima negosiasi selama empat bulan ke depan.

Penulis yakin bahwa tujuan taktis Obama dalam komitmennya perundingan langsung atau tidak langsung ada dua factor yang saling terkait.

Pertama, ia khawatir mendapatkan tamparan politik lagi dalam hal kebijakan luar negeri yang akan berimbas kepada pemilu ke depan. Artinya, selama ini ia dianggap gagal dalam membawa misinya di Timteng.

Kedua, ia berkeras tidak menekan Netanyahu pada saat pertemuan. Sebaliknya, ia berusaha menjaga hubungan baik dengan negara penjajah Israel. Berkali-kali Obama menegaskan hubungan Amerika – Israel masih hangat, dekat, akur dan strategis. Ini untuk merayu dan memuaskan lobi yahudi dan kelompok yahudi di Amerika Serikat dan menyelamatkan air mukanya pada fase sekarang minimal. Obama ingin mengeluarkan partainya dari dilema pemilu pertengahan di Kongres Amerika musim gugur depan untuk melanjutkan pemerintahannya kedua hingga pemilu presiden 2012.

Kenapa Netanyahu berusaha memeras Amerika padahal usahanya sebelum ini tidak membuahkan hasil? Netanyahu berusaha memanfaatkan kesempatan demografi dan geopolitik pada jangka panjang sehingga akan mengganggu solusi dua negara dua bangsa dan memaksakan persepsi politik sesuai kehendak Israel dengan menguasai Al-Quds secara penuh.

Dari kajian politik historis kita akan menerima bahwa pemerintah Israel secara turun temurun memiliki akidah yang sama bahwa Al-Quds adalah ibukota abadi Israel dan tidak bisa ditafsirkan lagi atau dibagi. Bagi Israel, Palestina tidak memiliki kedaulatan penuh bahkan soal perlintasan sekalipun. Ini berarti, solusinya dimata Netanyahu dan Obama hanyalah mengingkari hak-hak legal Palestina dan akal-akalan yang biasa dilakukan di level internal dan hubungan internasional.

Jika pemerintah Amerika sekarang seperti halnya pemerintah sebelumnya yang tidak bisa mengekang dan mengendalikan serta memaksa Israel mundur dari proyek-proyek perluasan pemukiman yahudinya di Palestina, padahal Obama sudah mundur menekan Israel, maka bagaimana bangsa Arab dan Palestina khususnya bisa mempercayai pemerintah Paman Sam??

Netanyahu dan Obama adalah dua sisi dari satu mata uang. Pertemuan keduanya hanya berbagi kepentingan, lain tidak. Netanyahu membantu kepentingan Obama dalam menekan Lobi Yahudi di Amerika agar mendukung kebijakan presiden kulit hitam pertama Amerika itu. Dengan konpensasi, Obama tidak menekan Netanyahu mengubah politiknya soal permukiman. Hal ini akan bisa jadi pemerintah Netanyahu akan gagal di hadapan para pesaingnya dari Partai Buruh dan Kadema. Apalagi 80% partai-partai kanan ekstrim mengancam akan mundur dari koalisi pemerintah Netanyahu jika ia berlepas dari politik perluasan pemukiman yahudi. (bn-bsyr)
SUMBER

0 comments:

Post a Comment