Membaca Sejarah, Tidak; Realitas Juga Tidak

Saturday, 17 July 2010

print this page
send email
Fahmi Huwaidi
Sebuah sikap yang tidak bisa dipahami ketika Menteri Wakaf Mesir, Dr. Zaqzuq berkali-kali menegaskan niatnya mengunjungi Jerusalem dengan visa Israel.

Itu terjadi pecan lali ketika Dr. Zaqzuq (28/7) menggelar konferensi pers dalam pertemuan perkemahan musim panas di Iskandariyah di depan pelajar dari 40 negara Islam yang belajar di Al-Azhar. Ia menyebut para pengkritiknya berlebihan dan berpegang kepada simbolisme semata. Dalam konferensi persnya ia menyatakan dirinya menerima undangan dari Menteri Wakaf Palestina untuk ke Jerusalem dan ia menjawabnya positif datang.

Ia bahkan berdalih; bukankah Nabi Muhammad Sallallu Alaihi wa Sallam meminta mengizinkan kepada musyrik Mekah ketika ingin berumrah di tahun ketiga hijriah ketika patung-patung di sekitar Ka'bah.

"Apakah Nabi saat itu ingin melakukan normalisasi hubungan dengan kaum Musyrikin atau mengakui berhala-berhala mereka?," Ujar Zaqzuq. Bahkan ia panjang lebar menjelas alasannya yang diliput oleh TV 7 Israel. TV Israel ini menilai ini sebagai politik penting yang dilakukan pemerintah Mesir dalam berinteraksi dengan Tel Aviv.

Namun ada anomaly. Sebab Dr. Zaqzuq menilai bahwa kunjungan ke Jerusalem merupakan dukungan terbesar terhadap Palestina dan warganya. Padahal yang menyambut pertama kali kunjungan itu adalah TV Israel. Ini berarti Israel menganggap kunjungan itu bukan dukungan kepada Palestina.

Lebih penting dari itu, alasan Dr. Zaqzuq justru bertentangan dengan pandangannya. Penulis tidak tahu kenapa sang Menteri menyitir dalil tidak pada tempatnya dan melakukan kesalahan. Kaum musyrik Mekah yang dimintai izin oleh Rasulullah sebelum berumrah bukanlah penjajah atau merampas Ka'bah. Eksistensi dan keberadaan kaum musyrik di Mekah juga legal. Ini tentu jelas tidak bisa dianalogikan dengan kasus Israel yang merampas Jerusalem dan tidak memiliki legalitas dari sisi hukum dan moral.

Ini artinya dari sisi realitas sejarah dalil sang Menteri batal.

Sang Menteri bukan saja tidak 'nggeh sejarah, tapi tidak jeli membaca realitas. Ia salah kira sebab Israel di Al-Quds (Jerusalem) sekarang ini mengusir warga di sana dan menggusur rumah-rumah mereka serta ingin menguasai penuh Jerusalem Timur dan mengubah tanda-tanda dan symbol kearaban dan keislamannya. Lebih jauh dari itu, Israel terus menggali terowongan di bawah masjid Al-Aqsha yang mengancam masjid itu untuk roboh.

Semoga saja sang menteri segera bisa berkunjung ke Jerusalem dan masjidil Al-Aqsha ketika Israel sudah hilang dan hancur dari sana. (bn-bsyr)
SUMBER

0 comments:

Post a Comment