Laporan dari Relawan BSMI di Palestina (Gaza)

Saturday, 24 July 2010

print this page
send email
*Listrik hanya menyala 14 jam dalam sehari, selebihnya menggunakan diesel. Suara diesel bersahut-sahutan dari sudut-sudut kota.
*Supir taksi mengeluh, listrik yang terbatas di musim panas membuat gerah suasana di rumah dan permukiman.
*Malam hari di kota cukup gelap, tak banyak lampu-lampu rumah yang menyala
*Petugas keamanan banyak terlihat di sudut-sudut kota
*Harga makanan terasa mahal dibandingkan dengan di Mesir. Nilai tukar USD 100 = 387 seqel dan EGP 100 = 61 Seqel
*Barang-barang kebutuhan hidup terlihat masih mudah ditemui, namun harganya mahal karena masuk dari pintu-pintu tidak resmi (terowongan).
*Gairah hidup masyarakat masih terasa, anak-anak berlarian dan main bola dimana-mana, arak-arakan pengantin baru memenuhi jalan-jalan kota, penduduk berkeliaran di jalan-jalan dan beberapa pesta masih di gelar di hotel-hotel mewah tepi laut Gaza.
*Banyak penduduk Gaza yang pulang dari luar negeri (Egypt dll) dari pintu Rafah.
*Sisa-sisa bangunan hancur dan setengah jadi masih terlihat. Sementara bangunan-bangunan baru sudah terlihat banyak juga.
*Mobil UN/ PBB dan lembaga kemanusiaan negara lain sesekali terlihat.
*Bantuan kemanusiaan dan partisipasi Turki amat dominan dalam misi kemanusiaan di Gaza. Bendera Turki mudah dijumpai dimana-mana.

• Serangan rudal malam sebelumnya menewaskan dua orang penduduk Gaza di Gaza Utara, empat kilometer di utara penginapan kami.
• Listrik masih sekarat, kadang menyala 14 jam sehari, kadang 12 jam sehari dan kadang hanya 8 jam sehari. Kalaupun menyala sering juga mati untuk kemudian hidup lagi.
• Bau minyak dan solar menyengat dari rumah-rumah penduduk, pertanda diesel/ genset sedang beroperasi. Menurut keterangan Dr Ahmad dari Kementerian Kesehatan, sering terjadi kecelakaan yang membakar dan melukai penduduk akibat genset meledak.
• Air bersih masih cukup sulit dijumpai di permukiman. Di penginapan kami airnya amat asin dan tak layak diminum. Juga di kediaman penjamu kami, Syekh Nasser, air di wastafel kamar mandinya amat asin. Padahal ia punya anak lima masih kecil-kecil dan tinggal di flat di lantai lima tanpa lift.
• Penduduk Gaza amat hangat dan ramah, selalu menyapa duluan : assalamualaikum…dan senyum ramah senantiasa menghiasi wajah mereka.
• Orang Indonesia cenderung disukai karena kiprah kemanusiaan orang-orang Indonesia berupa donasi uang, barang, dan perlengkapan lainnya cukup dirasakan warga Gaza.
• Menurut seorang warga Jeddah, Saudi, yang terjebak di Gaza hampir setahun dan kami jumpai di warung Kebab Salsabil, di Gaza masyarakatnya miskin dan ekonominya sulit. Disini pengeluaran jelas namun pemasukan tidak jelas. Kendati demikian ia senang tinggal disini karena masyarakatnya ramah.
• Barang-barang consumer goods sampai mobil-pun masuk Gaza dari terowongan ‘illegal’, karena sulit memasukkan barang-barang dari pintu-pintu resmi.

Laporan dari Shifa :
• RS Shifa adalah rumah sakit utama di Gaza dari 15 rumah sakit yang ada.
• Ruang Gawat Darurat (UGD) amat tidak memadai, tidak ber-AC dan tak semua ada kipas angin. Pasien full. Menurut keterangan Dr Ayman, penanggungjawaba UGD, pada saat serangan bulan Januari 2009, setiap beberapa saat datang pasien luka parah 40 orang-an, padahal kapasitas tempat tidur hanya untuk 10 orang-an.
• Pasokan darah untuk transfusi amat minim, kalaupun ada tidak dijamin darahnya sehat.
• Complete Blood Count (CBC) alias tes darah tak dapat diselenggarakan dengan layak.
• Di sebelah ruang UGD ada bangunan sekitar empat lantai yang tak jadi-jadi, menurut penuturan Syekh Namer, karena pasokan semen berhenti maka calon gedung rumah sakit tersebut tak jadi-jadi. Pengiriman bantuan dari luar yang sebenarnya cukup banyak tak bisa masuk Gaza. Berhenti di border. Sebagian barang-barang jadi kadaluwarsa dan tak bisa digunakan lagi. Termasuk semen, dikirim tapi tak bisa masuk.
• Byar pet-nya listrik sangat mengganggu layanan kesehatan. Dokter Muhammad di RS Asy Syifa mengeluh bahwa di unitnya (Dialisis) listrik sering byar pet padahal alat-alatnya mahal dan jarang. Listrik yang turun naik membuat rusak alat-alat. Listrik juga mati pada saat-saat yang tidak tepat, misalnya ketika menjelang persalinan pasien-pasien.
• Ruang ICU sedikit memprihatinkan, tak jelas AC menyala atau tidak. Pasien banyak tapi ruangan cukup sempit dan perlengkapan medis tertata tidak rapi.
• Satu ruangan yang paling layak adalah Unit Cancer (Radiodiagnosis) yang merupakan sumbangan dari Pangeran UAE (Emirat Arab), ruangan bersih dan ber AC dingin, peralatan tampak lengkap.
• Saran dari Dr Muhammad, supaya lembaga kemanusiaan juga memperhatikan pengadaan Unit Dialisis di Gaza Utara, juga mendesak supaya blockade ini (Siege) segera dihentikan karena membawa kesengsaraan bagi semua orang.

Laporan dari Pool Ambulance

• Keterangan dari Abu Adnan, jumlah Ambulan di Gaza sekarang ada 75 buah dan 20 diantaranya rusak. Yang masih aktif ada 55 buah dan terancam rusak sewaktu-waktu karena ketiadaan suku cadang. Mobil ambulance yang dikirim pelbagai macam, merk Hyundai, General Motor, Toyota, Mercedez, dan lain-lain, amat sulit mendapatkan spareparts dari ambulance2 tsb di bumi Gaza.
• Abu Adnan menghimbau, sebaiknya sumbangan dari masyarakat internasional selain ambulance adalah juga monitor defibrillators-nya yang berharga sekitar USD 1000 – 2000. Juga maintenance dari ambulance perlu juga dipikirkan oleh para donatur.
• Seluruh biaya penggunaan ambulance dan teknisinya adalah gratis, berdasarkan Keputusan dari Perdana Menteri Otoritas Palestina


Rekening Peduli Palestina :
1. Bank Syariah Mandiri (BSM) Cabang Jatinegara 0010102555
a.n Bulan Sabit Merah Indonesia
2. Bank Central Asia no.rek 165.3010.200
a.n Bulan Sabit Merah Indonesia
3. BNI : 0162263760
a.n Bulan Sabit Merah Indonesia
4. BRI : 020601029018507
a.n Bulan Sabit Merah Indonesia

0 comments:

Post a Comment