Al-Quds, Antara Luka dan Asa

Sunday, 1 August 2010

print this page
send email
Dr. Wahid Abdul Majid

Ittihad Emierts

Rencana “penarikan diri kedua” Israel dari Jalur Gaza (penarikan diri Israel pertama pada 2002 dari Jalur Gaza karena tekanan perlawanan) agaknya dianggap ilusi politik yang jauh dari kenyataan. Namun agaknya gap akibat buntuhnya harapan perdamaian dalam konflik Palestina – Israel agaknya rencana di atas akan mendekati kenyataan. Apalagi melihat perpecahan Jalur Gaza dan Tepi Barat. Penarikan kedua yang dimaksud adalah karena gagasan Libermen agar Israel melepaskan diri dari tanggunjawab hukum dari Jalur Gaza.

Rencana itu bukan melepaskan Israel dari tanggunjawabnya dengan mengakui pemerintah Hamas. Ini hanya gagasan setanisme baru yang muncul akibat makin ruwetnya perundingan dengan musuh dan peliknya rekonsiliasi antara sesame Palestina.

Berdasarkan data yang ada, sejak konferensi Madrid 1991, solusi final konflik politik Palestina – Israel makin sulit dibanding tahun-tahun terdahulu. Bukan saja karena arah kebijakan Benjamen Netanyahu saja, namun juga karena masyarakat Israel yang memilih pemerintah ke depan makin simpati dengan kelompok kanan ekstrim.

Data juga menunjukkan bawa rekonsiliasi Palestina sangat sulit dicapai. Bahkan mungkin mustahil. Bahkan pihak mediator Mesir sudah kehilangan harapan dalam mewujudkan rekonsiliasi itu dalam waktu dekat.

Dari data ini, dimana Israel menguasai di satu sisi dan Hamas menguasai di sisi lain, Avidgor Lieberman menyampaikan rencana barunya yang ingin mewujudkan capai lebih besar. Jalur Gaza sejak 1948 dianggap sumber kekacauan dan gangguan bagi Israel, bukan sejak 1967 saja. Karenanya, Israel ingin melepaskan tanggungjawabnya secara hukum sebagai penjajah. Mesir menolak rencana Israel ini. Sementara Hamas, yang mengandalkan Jalur Gaza sebagai benteng setelah dikuasai sejak 2007, berharap ada legitimasi penguasaan ini setelah selama tiga tahun terakhir justru diisolir.

Bukan berarti rencana baru ini mengharuskan kesepakatan langsung. Namun kesepakatan ini tidak akan bisa terlaksana, meski diterima oleh pihak dunia internasional tanpa kesepakatan eksplisit dari Hamas yang tanpaknya akan menggagalkannya, jika mau.

Karenanya, Lieberman berusaha memberikan kesepakatan Hamas menerima rencana ini melalui bujukan dan rayuan. Bahkan rayuan itu disebutkan dalam detail rencana ini dimana Jalur Gaza akan menjadi entitas semi independen dan merdeka. Format kesepakatan ini mencakup pencabutan tekanan terhadap Hamas, pemberian bantuan, suplai kebutuhan pokok bagi warga Gaza dan perbaikan taraf hidup. Di antaranya melalui pembangunan stasiun listrik sendiri, alat penyaringan air, pembangunan pelabuhan di Jalur Gaza. namun itu semua dengan syarat kapal yang datang diperiksa terakhir di Cyprus atau Yunani disamping akan ditempatkan pasukan internasional untuk menjamin tidak ada senjata masuk ke Jalur Gaza.

Israel juga mensyaratkan bahwa situasi tenang harus tetap dipertahankan di perbatasannya dengan Jalur Gaza. Namun yang tidak diketahui, rencana Israel ini justru ingin perpecahan dan disintegrasi Palestina semakin kuat bahkan disintegrasi final.

Lieberman merencanakan agar Jalur Gaza dan Israel (di perbatasannya) ditutup total. Sehingga perlintasan yang menghubungkan Jalur Gaza dan Tepi Barat akan dianulir dan dihilangkan. Ini artinya disintregasi permanen bagi Palestina.

Lebih bahaya lagi, Israel ingin Palestina memiliki negara dengan batas sementara di Tepi Barat. Ini akan dimanfaatkan Israel untuk mempermainkan perundingan damai, karena Jalur Gaza akan dipisahkan utuh dari Tepi Barat.

Karenanya, bahaya rencana ini harus ditanggapi serius dan segera. Jangan sampai Israel mengadopsi rencana ini secara resmi. Apalagi setelah Partai Buruh pimpinan Ehud Barak menyatakan rencana ini memiliki sisi positif. Hal itu disampaikan dalam wawancara dengan radio militer Israel 21 Juli ini. Dia menyampaikan logika mirip dengan Lieberman dalam melegitimasi rencana mendukung hegemoni Hamas atas Jalur Gaza. “Upaya melumpuhkan gerakan ini tidak berhasil.”

Secara riil, tidak sulit meyakinkan masyarakat internasional bahwa Israel salah dalam melepaskan dirinya dari tanggungjawab dan bahwa membantu mereka lari dari tanggungjawab ini adalah sikap salah. Dunia internasional harus diyakinkan bahwa dua entitas Jalur Gaza dan otoritas Palestina di Tepi Barat yang merdeka akan menjadi awal tahap baru yang lebih sulit dan rumit dalam konflik ke depan. Yang paling penting, Arab harus segera bergerak sekarang, bukan besok. (bn-bsyr)SUMBER

0 comments:

Post a Comment