Masa Depan Hubungan Amerika – Israel Pasca Peristiwa Freedom Flotilla

Friday, 11 June 2010

print this page
send email
Portel, Jamalinfo
Sejumlah laporan dan analisis mengindikasikan hubungan Amerika – Israel akan memasuki krisis baru menyusul serangan pasukan khusus Israel menghadang dan menyabotase konvoi bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza dan membunuh sejumlah relawan sipil. Benarkah?

Indikasi krisis dari sisi Israel

Komisi Luar Negeri di parlemen Israel Knesset menggelar pertemuan darurat setelah 24 jam setelah pasukan Israel menyerang Freedom Flotilla. Sidang itu khusus mendengar paparan jenderal Meir Dagan, kepala dinas intelinen Israel bidang keamanan luar negeri. Dalam sidang itu, Meir Dagan meluapkan kemarahannya kepada pemerintah Amerika Serikat sekarang. Ia menuding Amerika bertanggungjawab atas kejadian serangan dan afeknya bagi Israel. Beberapa hal yang disampaikan Meir Dagan;

- Pemerintah Obama berusaha meminimalisir peran militernya dan lebih banyak memblowup sisi diplomasi. Ini diyakini Israel sebagai kemunduran pengaruh Amerika sehingga pengaruh Israel ikut turun.

- Pemerintah Obama berubah lebih memilih mengatasi konflik dengan sarana diplomasi. Hal ini akan membuat Israel terbebani sebab negara zionis ini mengandalkan kekuatan militer dalam mengatasi konfliknya di kawasan Timteng.

- Israel melihat politik Amerika sebagai “voucher strategi” bagi negara zionis ini namun perubahan pemerintah Obama maka politik Amerika akan menjadi “beban strategi” bagi Israel.

- Perubahan baru politik Amerika akan menyebabkan tergerogotinya dan lemahnya dukungan Amerika kepada Israel.

Analisi Israel mengindikasikan, informasi dari kepala dinas Mossad Jenderal Meir Dagan adalah sikap resmi Israel yang menolak strategi keamanan nasional Amerika yang sudah berubah sejak sekitar lima hari lalu.

Indikasi krisis di sisi Amerika

Amerika berusaha menjaga Israel di dalam DK PBB. Sejumlah informasi menegaskan, Israel dan kelompok lobi yahudi memperkirakan, Amerika akan menolak tegas keluarnya keputusan internasional apapun soal operasi militer Israel. Meski diplomasi Amerika berhasil menghalangi DK PBB agar tidak mengeluarkan kecaman kepada Israel, namun amarah tetap saja meluap di dada Israel dan lobi yahudi.

Sikap kelompok-kelompok dan tokoh lobi yahudi sesuai dengan bidang-bidang konsentrasi dalam mengkritik Amerika mengisyaratkan sejumlah hal berikut;

Kelompok I dipimpin yahudi Amerika Eliot Abraham, pejabat Timur Tengah di Dewan Keamanan Nasional selama pemerintah Bush.

Kelompok II dipimpin oleh yahudi Amerika David Macofisci, pejabat proses perdamaian Timteng di Lembaga Kajian Washington milik Lobi Yahudi. Kelompok ini berusaha menekan masyarakat internasional agar mengakui Israel dalam memblokade Jalur Gaza, membidik Tepi Barat, selatan Libanon sebagai hak legal untuk membela diri.

Kritikan kepada pemerintah Obama soal Israel berasal dari kalangan pakar dan tokoh Lobi Yahudi, disamping dari kelompok Kristen Zionis. Namun sejumlah pakar strategi Amerika meluapkan kemarahannya kepada Israel. Di antaranya adalah pakar strategi Amerika Antoni Cordesman. Di antara kritikannya adalah;

- Hubungan Amerika dengan Israel tidak didasarkan kepada kepentingan strategi Amerika.

- Amerika komitmen menjaga keamanan Israel dengan alasan utama dari sisi moralitas dimana Amerika tidak berhasil dalam perang dunia ke II dalam membantu yahudi Jerman dan yahudi Eropa.

- Amerika mengakui Israel sejak didirikan tahun 1948 dan para 1967 Amerika secara serius berusaha menjamin keunggulan Israel di banding negara-negara tetangganya dengan cara mendukung secara militer, ekonomi dan politik.

- Amerika menagaskan, dukungannya dalam proses damai Arab – Israel harus menghasilkan perdamaian yang menjaga keamanan Israel.

Setelah itu sang pakar strategi ini menegaskan dengan tegas, kedalaman komitmen Amerika terhadap Israel tidak boleh menjadi pembenar bagi pemerintah Israel melakukan tindakan yang menyebabkan beban strategi di pundak Amerika. Terutama menjadi tuntutan bagi Amerika, adalah bahwa Israel harus menjadi “voucher strategi” bagi Amerika.

Ia menegaskan, komitmen Amerika mendukung Israel bukan berarti Amerika wajib mendukungnya jika Israel tidak berusaha menciptakan perdamaian dengan tetangganya di Timur Tengah. Komitmen Amerika bukan berarti Amerika wajib mendukung permukiman Israel di Tepi Barat, atau mengambil langkah tegas membantu Israel mengubah Al-Quds menjadi kota yahudi murni daripada kota pembauran.

Bahkan Cordesman menegaskan, dukungan Amerika bukan berarti Washington harus bersikap negative terhadap rentetan kebodohan Israel seperti;

- Menyerang Libanon pada perang 2006.

- Meningkatkan agresi ke Jalur Gaza.

- Menghalangi upaya Amerika mewujudkan upaya perdamaian dengan cara mengumumkan permukiman yahudi dalam timing yang tidak tepat.

- Mengirim pasukan khusus Israel untuk menguasai konvoi bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza.

Cordesman menutup kritikannya bahwa Amerika komitmen mendukung Israel dengan konpensasi berbalik jika Israel juga harus komitmen mendukung Amerika. Terutama dengan cara Israel tidak melakukan tindakan yang mengganggu dan merugikan kepentingan Amerika.
Ia menambahkan, Amerika tidak membutuhkan masalah-masalah tidak penting di kawasan Timteng, kawasan paling tidak stabil di dunia. Cordesman menambahkan, Israel harus sadar bahwa kesabaran Amerika ada batasnya dan bahwa dukungan Amerika kepada Israel tidak mungkin dengan memberikan apapun kepada Israel secara mutlak. (bn-bsyr)
SUMBER

0 comments:

Post a Comment