Imam Al-Banna dan Permasalahan Umat

Saturday, 5 June 2010

print this page
send email
Risalah dari DR. Muhammad Badi’ Mursyid Am Ikhwanul Muslimin
Segala puji bagi Allah, Salawat dan salam atas Rasulullah saw dan orang-orang yang mendukungnya.
Hari-hari berlalu, dan tahunpun terlewati, membawa berbagai peristiwa, ujian dan cobaan yang dianggap oleh musuh-musuh Allah alat pamungkas untuk membasmi, namun hal itu tidak berarti bagi Ikhwanul Muslimin kecuali semakin bertambah dan meningkat tsabat (keteguhan) pada prinsip-prinsip mereka, dan bertambah yakin akan dakwah mereka, iman klaim, dan terus melalaju dalam berkorban dan berkontribusi untuk agama, ideologi dan tanah air mereka, bukan untuk mencari kepentingan pribadi, duniawi atau keuntungan semu, namun untuk mengikuti jejak langkah Rasulullah saw.

Bersama dengan perjalanan hidup yang penuh berkah ini, bendera iman masih terpatri di dalam hati, mengalir di urat nadi sebagai amanah, dalam perilaku sebagai komitmen, dan dalam pekerjaan dan berbagai akitivitas sebagai ibadah dan jihad.

Hal terbesar yang dapat memberikan kegembiraan bagi para aktivis yang memiliki komitmen adalah meninggikan bendera untuk dapat memberikan naungan kepada mereka, memberikan kenyamanan perjalanan hidup mereka dihadapan orang-orang yang terus meguntit dan memata-matai Islam dan umat Islam dalam rangka mencoba dan berusaha mematikan segala aktivitas dan agenda Islam yang konstruktif, sehingga -dengan demikian- mampu memberikan kenyamanan bagi semua khususnya orang-orang yang di dalam hati mereka memiliki keyakinan akan kebenaran dakwah Ikhwanul Muslimin, masuk dalam diri mereka ideologi Imam Al-Banna dan sikap-sikapnya terhadap berbagai masalah umat, yang mampu membuat para penulis, intelektual dan juru tulis selama delapan dekade terakhir sibuk dengan hal tersebut, Bahwa Imam Al-Banna telah sibuk dengan isu-isu dunia Islam dan problematika umat Islam di dalam maupun di luar negeri, khususnya masalah Palestina yang menjadi perhatian penuh olehnya sehingga tidak ada peringatan tentang Palestina kecuali selalu disandingkan dengan menyebut kiprah Ikhwanul Muslimin.

Imam Al-Banna telah menganggap permasalahan Palestina seperti dalam ungkapannya:

فِلِسْطِيْنُ تَحْتَلَّ فِي نُفُوْسِنَا مَوْضِعًا رُوْحِيًّا وَقُدْسِيًا فَوْقَ الْمَعْنَى الْوَطَنِي الْمُجَرَّدِ، إِذْ تَهِبُ عَلَيْنَا مِنْهَا نَسَمَاتِ بَيْتِ الْمَقْدِسِ الْمُبَارَكَةِ وَبَرَكَاتِ النَّبِيِّيْنَ وَالصِّدِّيْقِيْنَ وَمَهْدِ الْمَسِيْحِ عَلِيْهِ السَّلاَمِ، وَفِي كُلِّ ذَلِكَ مَا يَنْعِشُ النُّفُوْسُ وَيُغْذِي الأَرْوَاحِ

“Palestina menempati di dalam jiwa kita secara rohani dan Qudsi melebihi nilai-nilai nasional, karena Palestina memberikan kepada kita keagungan Baitul Maqdis yang penuh berkah dan berkah para nabi dan shiddiqin dan tempat kelahiran Nabi Isa AS, dan semua itu mampu memberikan kesegaran jiwa dan semangat bagi ruh.”

Bahwa Isu Palestina menurut Imam As-Syahid Al-Banna menempati posisi pertama yang juga merupakan isu dan permasalahan terbesar bagi Islam dan para pemeluknya, sebagaimana ia berkata:

قَلْبُ أَوْطَانِنَا، وَفَلْذَةُ كَبْدِ أَرْضِنَا، وَخَلاَصَةُ رَأْسِمَالِنَا، وَحَجْرُ الزَّاوِيَةِ فِي جَامِعَتِنَا وَوِحْدَتِنَا، وَعَلَيْهَا يَتَوَقَّفُ عِزُّ الإِسْلاَمِ وَخَذْلاَنِهِ

“(Palestina) Jantung tanah air kita, denyut nadi negeri kita, dan inti dari modal kita, pangkal persatuan dan kesatuan kita, dan atasnya pula terwujud kemuliaan Islam dan kehinaannya”.

Imam Syahid Al-Banna menjadikan isu Palestina sebagai isu bagi bangsa Arab dan umat Islam di abad kedua puluh ini; sehingga dengan itu Ikhwanul Muslimin telah banyak memberikan kontribusinya dalam Jihad di Palestina sejak tahun tiga puluhan, seperti pada tahun 1935 Imam Al-Banna berkomunikasi dengan sang mujahid, “Al-Qassam”, dan pada tahun 1936 beliau memberikan taujih sekaligus seruan hangat dan semangat serta menyeluruh kepada Ikhwanul Muslimin untuk berkontribusi dan mengumpulkan harta mereka untuk mendukung pada mujahidin selama terjadi intifadhah besar-besaran di Palestina, sebagaimana pernah diadakan muktamar Arab terbesar untuk memberikan dukungan kepada Palestina yang dilakukan di kantor pusat Ikhwanul Muslimin di Mesir pada tahun 1938, yang hadir di dalamnya para pemimpin dunia Arab, dan pada tahun 1947 sebagai respons terhadap seruan Ikhwanul Muslimin terbentuk sebuah yayasan yang terdiri dari berbagai kekuatan politik di Mesir yaitu “Yayasan Lembah Sungai Nil untuk menyelamatkan Al-Quds” .

Sebagaimana Ikhwanul Muslimin juga ikut berpartisipasi dalam jihad, dan mengirim para pengikutnya setelah diputuskan adanya pembagian tanah Palestina pada tahun 1947, yang mana mereka memiliki track record yang baik yang disaksikan oleh dunia, dan menorehkan sejarah dengan darah para syuhada akan jiwa kepahlawanan bersama ikhwan mereka di Palestina, dan juga yang diikuti oleh imam Al-Banna yang syahid pada tahun 1949.

Al-Banna dan Nasionalisme

Imam Al-Banna berpendapat bahwa nasionalisme dengan arti cinta kepada negara dan bernostalgia kepadanya, bekerja dengan keras untuk memerdekakannya dan memperkuat keberadannya, mempererat hubungan di antara anggota-anggotanya sehingga mampu memberikan manfaat bagi mereka, sebagai ideologi yang tepat yang ditetapkan oleh Islam adalah keniscayaan, karena itulah kami juga percaya dan meyakininya dan berusaha bekerja keras untuknya, sebagaimana yang diingatkan oleh Imam al-Banna bahwa Ikhwanul Muslimin merupakan manusia yang paling ikhlas terhadap negari mereka dan tanpa pamrih dalam memberikan pelayanan kepadanya, dan bahwa asas nasionalisme menurut mereka adalah aqidah yang berada di puncak tertinggi.

Dalam sebuah risalah “Ila syabab” (kepada para pemuda) Imam Al-Banna mengingatkan bahwa ikhwanul Muslimin terus bekerja untuk tanah air mereka yaitu Mesir, berjuang di jalannya, dan professional serta tanpa pamrih dalam berjihad di jalanya; karena Mesir adalah pemimpin negara Islam dan umat Islam, dan ini merupakan bagian pertama dari berbagai rangkaian menuju kebangkitan yang diidamkan, bahkan ia merupakan bagian dari negeri Arab secara umum, dan kami ketika sedang bekerja untuk Mesir berarti juga dalam usaha bekerja untuk Arab, timur dan Islam.

Karena itu, bahwa sikap nasionalisme yang dibangun oleh Imam Al-Banna mampu membina pada setiap individu perasaan loyalitas yang tinggi dan perasaan memiliki negeri Mesir serta rasa tanggung jawab terhadapnya, mampu membangkitkan jiwa untuk bekerja menuju kemerdekaan dan kemajuannya, dan pada saat yang bersamaan mampu memperluas cakrawala terhadap negeri, dengan anggapan bahwa Mesir merupakan bagian pertama dari kebangkitan.

Al-Banna dan persatuan Arab

Imam Al-Banna menjelaskan bahwa Arab dalam dakwah Ikhwanul Muslimi memiliki posisi yang sangat penting dan strategis, karena Arab merupakan umat Islam yang pertama, Islam muncul dan berkembang dari negeri Arab dan berbahasan Arab, dan mampu tersebar ke berbagai pelosok negeri melalui orang-orang Arab, dan kitab sucinya juga berbahasa Arab, dan bersatunya Bangsa-Bangsa dengan nama Islam atas lisan (bahasa) Arab, karena itu Arab adalah Inti Islam, dan Al-Banna memperingatkan akan bahaya lepasnya Mesir dari persatuan Arab, dengan menjelaskan bahwa berpegang teguhnya Mesir pada bahasa Arab dan Arabisme menjadikannya sebagai sebuah bangsa yang mengakar mulai dari Teluk Persia hingga ke Samudera Atlantik.

Imam Al-Banna juga menjelaskan bahwa persatuan Arab merupakan perkara yang sangat penting dan urgen untuk mengembalikan daulah Islam dan kemuliaannya. Dan wajib bagi setiap muslim untuk bekerja guna menghidupkan kembali persatuan Arab dan kesatuannya, begitupula mendukungnya dan membelanya, karena tanpa adanya persatuan kata pada bangsa Arab dan kebangkitannya maka tidak akan terjadi kebangkitan Islam, beliau berkata:

وَالْجَامِعَةُ الْعَرَبِيَّةُ فِي وَضْعِهَا الصَّحِيْحِ الَّذِي يَجْعَلُهَا جَامِعَةً حَقِيْقِيَّةً تَضُمُّ كُلَّ عَرَبِيٍّ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ فِي الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، وَتَسْتَطِيْعُ أَنْ تَقُوْلَ كَلَمِتًهَا فَيَحْتَرِمُ هَذِهِ الكَلِمَةَ الْعَرَبُ وَغَيْرُ الْعَرَبِ، هَذِهِ الْجَامِعَةُ الْعَرَبِيَّةُ مِنْ وَاجِبِنَا أَنْ نَعْمَلَ عَلَى تَقْوِيَتِهَا وَتَدْعِيْمِهَا، وَمِنْ حَقِّنَا أَنْ يَعْتَرِفَ النَّاسُ بِهَا، وَأَنْ يُقََدِّرُوْهَا قَدْرَهَا، وَأَنْ يُؤْمِنُوا بِأَنَّهَا حِيْنَ تُقَوِّى وَتَعِزُّ سَتَكُوْنُ مِنْ أَقْوَى دَعَائِمِ الإِسْلاَمِ الْعَالَمِي

“Persatuan Arab yang berada pada posisi yang tepat akan mampu secara nyata adanya persatuan yang hakiki, yang menghimpun semua komponen Arab di muka bumi ini baik di timur maupun di barat, bahkan Arab akan mampu mengungkapkan ucapannya sehingga dihormati oleh Arab dan non-Arab, dan persatuan Arab ini sebagai bagian dari kewajiban kita untuk bekerja memperkuat dan mengkonsolidasikan serta mendukungnya, dan juga hak kita setiap umat manusia harus mengakui ini, menghargai dan menghormatinya, mengimani bahwa ketika kuat dan kokoh maka ia merupakan bagian dari kekokohan dan kekuatan pondasi Islam di seluruh dunia. “

Ikhwanul Muslimin telah menempatkan isu dunia Arab seluruhnya, terutama isu kemerdekaan negara-negara Arab dari kolonialisme Barat, dan isu persatuan Arab, dan mengisi semua surat kabar dan risalah mereka dengan berita-berita tentang dunia Arab dan membela akan isu-isunya, memberikan kesadaran akan kondisi politik dan militernya, dan tidak ada keraguan di dalamnya bahwa peran serta ikhwan dalam Perang Palestina pada tahun 1948 adalah merupakan bukti terbesar dan kongkrit akan perasaan yang mendalam mendalam terhadap permasalahan Islam yang terpatri dalam diri dan jiwa Ikhwanul Muslimin yang mana mereka secara suka rela berjuang di Palestina.

Al-Banna dan isu wanita

Imam Al-Banna juga sangat perhatian terhadap isu dan permasalahan wanita; sejak semula beliau telah menyadari akan urgensi dan peran penting wanita serta potensi social yang sangat besar yang terdapat dalam diri wanita, hal itu tampak dengan jelas akan semangat beliau mendirikan sekolah khusus untuk “akhwat muslimat” yang tidak hanya memberikan pengajaran dan pendidikan umum kepada para wanita namunjuga berfokus pada sisi lain berupa dengan memberikan tarbiyah kepada mereka akan nilai-nilai dan etika Islam, dan menganggap bahwa pengalaman itu merupakan upaya pertama yang serius di dunia Arab – di zaman modern – untuk kemajuan para wanita, menumbuhkan mereka secara intelektual, sosial dan politik; guna dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik di tengah bangsa mereka.

Dalam risalah “al-mar’ah muslimah” imam Al-Banna berkata:

وَالإِسْلاَمُ جَعَلَ الْمَرْأَةَ شَرِيْكَةَ الرَّجُلِ فِي الْحُقُوْقِ وَالْوَاجِبَاتِ، إِذْ هِيَ كَفْءُ الرَّجُلِ فِي إِنْسَانِيَّتِهِ وَمُسَاوِيَةٍ لَهُ فِي الْقَدْرِ، وَأَنَّهُ اعْتِرَافٌ لَهَا بِحُقُوْقِهَا الشَّخْصِيَّةِ كَامِلَةً وَبِحُقُوْقِهَا الْمَدَنِيَّةِ كَامِلَةً، وَبِحُقُوْقِهَا السِّيَاسِيَّةِ كَامِلَةً أَيْضًا، وَعَامِلُهَا عَلَى أَنَّهَا إِنْسَانٌ كَامِلُ الإِنْسَانِيَّةِ لَهُ حَقٌّ وَعَلَيْهِ وَاجِبٌ

Imam Al-Banna dalam (wanita Muslim): ” Islam mengangkat harkat dan martabat wanita dan menjadikannya partner laki-laki dalam hak dan kewajiban. Karena Islam telah meninggikan derajat wanita dan mengangkat nilai kemanusiaannya serta menetapkannya sebagai saudara sebagai sesamanya dan partner bagi laki-laki dalam kehidupan. Islam mengakui hak-hak pribadi, hak-hak peradaban, dan hak-hak politik wanita secara umum dan sempurna. Islam memperlakukannya sebagai manusia dengan kesempurnaan kemanusiaannya yang memiliki hak dan kewajiban. “

Al-Banna dan orang-orang Koptik

Imam Al-Banna dalam berbagai ceramah dan risalahnya banyak memberikan sikap kepada minoritas, terutama Koptik, dalam risalah (dakwatuna) beliau berkata:

إَنَّ الإِسْلاَمَ دِيْنُ الْوِحْدَةِ وَدِيْنُ الْمُسَاوَاةِ، وَأَنَّهُ كَفَّلَ هَذِهِ الرَّوَابِطَ بَيْنَ الْجَمِيْعِ مَا دَامُوْا مُتَعَاوِنِيْنَ ﴿لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِينِ ولَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وتُقْسِطُوا إلَيْهِمْ إنَّ اللَّهَ يُحِبُّ المُقْسِطِينَ، فَمِنْ أَيْنَ يَأْتِي التَّفْرِيْقُ إِذَنْ؟

“Islam adalah agama persatuan dan menghargai pluralitas, dan Islam menjamin hubungan dan ikatan ini selama mereka mau bekerja sama “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil”. (Mumtahanah:8), jadi dimanakah letak perbedaan/perpecahan itu?

Dan dalam risalah (nahwa nur) beliau menyampaikan:

إِنَّ الإِسْلاَمَ يَحْمِي الأَقَلِيَّاتِ عَنْ طَرِيْقِ: أَنَّهُ قَدَّسَ الْوِحْدَةَ الإِنْسَانِيَّةَ الْعَامَّةَ وَالْوِحْدَةَ الدِّيْنِيَّةَ الْعَامَّةَ بِأَنْ فَرَضَ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ بِهِ الإِيْمَانَ بِكُلِّ الرِّسَالاَتِ السَّابِقَةِ، ثُمَّ قَدَّسَ الْوِحْدَةَ الدِّيْنِيَّةَ الْخَاصَّةَ فِي غَيْرِ تِعْدٍ وَلاَ كِبْرٍ، وَيَقُوْلُ إِنَّ هَذَا هُوَ (مَزَاجُ الإِسْلاَمِ الْمُعْتَدِلِ) لاَ يَكُوْنُ سَبَبًا فِي تَمْزِيْقِ وِحْدَةٍ مُتَّصِلَةٍ، بَلْ يُكْسِبُ هَذِهِ الْوِحْدَةُ صِفَةََ الْقُدَاسَةِ الدِّيْنِيَّةِ، بَعْدَ أَنْ كَانَتْ تَسْتَمِدُّ قُوَّتُهَا مِنْ نَصٍّ مَدَنِيٍّ فَقَطْ

“Islam melindungi kaum minoritas dengan cara: karena Islam sangat mensucikan persatuan kemanusiaan secara umum dan persatuan keagamaan secara khusus dengan mewajibkan kepada orang-orang yang beriman kepadanya untuk meyakini dengan seluruh risalah sebelumnya, dan kemudian mensucikan persatuan agama secara khusus tanpa berlebihan dan keangkuhan, , dan beliau mengatakan bahwa hal ini merupakan (model Islam moderat) tidak akan menjadi alasan dalam memecah belah persatuan yang saling menyambung, namun diharapkan mampu memperoleh model dan karakter kesucian agama, setelah meletakkan sumber kekuatannya pada teks sipil saja. “

Begitu pula beliau mewasiatkan dalam risalah Ilas syabab-nya untuk bersikap moderat dan adil kepada suku Koptik dan berbuat baik dalam berinteraksi kepadanya: “Bagi mereka apa yang menjadi bagian kita dan atas mereka apa yang mereka atas kami”.; jangan sampai kita menyerukan pada apharteidsme atau fanatisme kelompok.

Al-Banna dan sistem ekonomi

Imam Al-Banna juga menyerukan kemerdekaan ekonomi dari dominasi asing dan peningkatan perekonomian nasional. Karena itu dalam berbagai seruannya menuntut untuk mewujudkan hal tersebut seperti kerajinan tangan, melakukan perubahan dari bentuk industri kepada pertanian, dan membimbing umat Islam untuk mengurangi kemewahan, dan peduli terhadap proyek-proyek nasional.

Dan ikhwanul Muslimin juga telah berusaha melampaui seruan teoritisnya pada kebangkitan dan kemandirian ekonomi; karena itu mereka menyeru untuk melakukan boikot terhadap berbagai barang, toko dan perusahaan asing, dan mendirikan berbagai perusahaan yang memberikan kontribusi pada bidang ekonomi, dan mengajak kepada para pekerja untuk menuntut hak-hak mereka dalam surat kabar dan buku-buku mereka.

Al-Banna dan tatanan konstitusional

Imam Al-Banna dalam (Risalah muktamar al-khamis) berkata:

إن طبيعة الإسلام التي تساير العصور والأمم، وتتسع لكل الأغراض والمطالب، لا تأبى أبدًا الاستفادة من كل نظامٍ صالحٍ لا يتعارض مع قواعده الكلية وأصوله العامة”، ولقد طبَّق الإمام البنا هذا المنهج على الموقف من النظام النيابي والدستوري الذي تبلور في تجارب الديمقراطيات الغربية

“Bahwa tabiat Islam yang selalu konsideran dengan perkembangan zaman dan bangsa, dan mengakomodasi berbagai tujuan dan tuntutannya, selamanya tidak menolak untuk tidak mengambil keuntungan dari semua sistem yang berlaku selama tidak bertentangan dengan aturan-aturan umum dan konsep-konsep dasarnya,” dan Imam al-Banna telah menerapkan metode dan manhaj dalam sistem parlementer dan konstitusional yang muncul dalam demokrasi Barat, dalam (risalah nahwan nur) beliau berkata:

إنه ليس في قواعد هذا النظام النيابي الذي نقلناه عن أوروبا ما يتنافى مع القواعد التي وصفها الإسلام لنظام الحكم، وهو بهذا الاعتبار ليس بعيدًا عن النظام الإسلامي ولا غريبًا عنه

“Ini bukanlah penerapan aturan system parlementer yang kita contoh dari Eropa yang bertentangan dengan Islam dan sistem pemerintahan, sebagaimana pula yang demikian tidak jauh dari sistem Islam dan tidak asing darinya. “

Karena itu Prinsip dan tujuan yang dibawa oleh Islam dalam menerapkan kebijakan umat dan Negara akan dapat dicapai dengan “sistem sipil” dan “pengalaman manusia” yang merupakan kreativitas manusia, dan norma dalam penerimaan dan penolakan adalah sejauh mana mampu mewujudkan sistem ini untuk kepentingan Islam pada keterlibatan bangsa dan umat dalam kemapuan melakukan pengambilan keputusan dan mewujdukan keadilan di tengah umat manusia.

Demikianlah sosok imam syahid Hasan al-Banna yang mampu merasakan berbagai permasalahan umatnya dengan ruhnya, indranya, akalnya dan pemikirannya, dan Ikhwanul Muslim hingga saat ini masih berjalan di atas manhajnya, berpegang teguh dengan prinsip-prinsip dan parameter yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, begitu pula dengan dengan sikap-sikapnya yang jelas dan tegas terhadap berbagai masalah bangsa di mana ia hidup di dalamnya, rela mati syahid untuknya, dan inilah yang pernah dikenalkan oleh Imam Banna dalam ugnkapannya yang universal pada saat beliau ditanya: “Siapakah Anda” lalu beliau menjawab:

أَنَا سَائِحٌ يَطْلُبُ الْحَقِيْقَةَ، وَإِنْسَانٌ يَبْحَثُ عَنْ مَدْلُوْلِ الإِنْسَانِيَّةِ بَيْنَ النَّاسِ، وَمُوَاطِنٌ يُنْشِدُ لِوَطَنِهِ الْكَرَامَةَ وَالْحُرِّيَّةَ وَالاِسْتِقْرَارَ وَالْحَيَاةَ الطَّيِّبَةَ فِي ظِلِّ الإِسْلاَمِ الْحَنِيْفِ، وَمُتَجِّرٌد أَدْرَكَ سِرَّ وُجُوْدِهِ؛ فَنَادَى ﴿قُلْ إنَّ صَلاتِي ونُسُكِي ومَحْيَايَ ومَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ العَالَمِينَ. لا شَرِيكَ لَهُ وبِذَلِكَ أُمِرْتُ وأَنَا أَوَّلُ المُسْلِمِينَ

“Saya adalah seorang turis yang mencari kebenaran kebenaran, seorang manusia yang mencari makna kemanusiaan di tengah umat manusia, seorang warga negara yang mendambakan negaranya memiliki martabat, kebebasan dan stabilitas serta kehidupan yang baik dibawah naungan Islam yang suci, dan seorang yang kosong berharap menemukan rahasia eksistensinya di dunia; lalu beliau berkata: “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian Itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Al-An’am:162-163)
Penerjemah:

Abu ANaS
SUMBER

0 comments:

Post a Comment