Abduh: Sikap Eropa Jauh Dari Yang Diharapkan

Tuesday, 15 June 2010

print this page
send email
Brussels : Gerakan Eropa Campaign yang bermarkas di Brussels Yunani mengkritik pedas pernyataan akhir KTT menter-menteri Uni Eropa di Luxemburg terkait pembantaian Zionis terhadap kapal Freedom Flotilla serta kejahatannya terhadap Gaza sejak empat tahun lalu. Sikap ini dari semua pengharapan selama ini.

Romi Abduh, anggota Eropa Campaign dalam pernyataan persnya yang dilansir infopalestina, Senin (14/6) mengatakan, pernyataan KTT Uni Eropa sangat lemah, tidak mengangkat realitas sejumlah orang bebas yang sedang menunggu sikap kuat, minimal dalam upayanya membebaskan blokade dari Gaza. Bukan malah mencari-cari alasan untuk melanjutkan blokade.

Abduh menambahkan, sikap Uni Eropa tidak lebih dari sebuah usulan. Tidak ada upaya untuk mengakhiri blokade Gaza. Bahkan terkesan Uni Eropa mencari pembenaran terhadap blokade Zionis, disamping memberikan persyaratan-persyaratan untuk penghapusannya selain disyaratkan untuk mengakhiri perpecahan.

Di sisi lain, Eropa Campaign mengecam sikap Uni Eropa yang dinilainya terpuruk dari sikapnya semula yang mengecam pembantaian yang dilakukan tentara Zionis terhadap kapal Flotilla, dua pekan lalu. Uni Eropa hanya membuahkan kata-kata “Menyesal Secara Mendalam” atas hilangnya beberapa nyawa dalam operasi militer Israel di perairan internasional, saat menuju Gaza.

Dalam pernyataan yang dikeluarkan menteri luar negeri Uni Eropa setelah mengadakan KTT di Luxemburg Uni Eropa hanya mengecam penggunaan kekerasan dalam aksi itu, tanpa mengecam Entitas Zionis sebagai pelakunya, apalagi dengan melimpahkan tanggung jawab kepada Israel atas hilangnya sembilan nyawa rakyat sipil. Padahal di kapal tersebut terdapat sejumlah warga Eropa.

Terkait dengan penyelidikan yang akan dilakukan oleh PBB, Uni Eropa hanya menyatakan, pentingya penyelidikan secara utuh dan netral. Kepercayaan masyarakat internasional menuntut keterlibatan negara-negara yang menyetujui pembentukan tim tersebut.

Adapun masalah Gaza, KTT menyebutkan pentingnya mengubah kebijakan dalam menghadapi Jalur Gaza secara serius, sebagai solusi tuntas bagi kondisi di wilayah tersebut. Penutupan tidak bisa diterima dan tidak efektif dari sisi politik. KTT bahkan menyerukan realisasi dari Resolusi DK PBB no 1860 yang meginteruksikan pembukaan perlintasan bagi bantuan kemanusiaan, perdagangan dan lalu lintas oran dari dank e Gaza, secara kontinyu dan tanpa syarat.

Terkait dengan solusi tersebut, harus diambil langkah untuk memperkarakan pemagaran keamanan Israel, termasuk di dalamnya operasi kekerasan dan penyulundupan senjata ke Gaza. KTT juga mengungkapkan kesiapanya untuk ikut ambil bagian dalam sejumlah peraturan terkait perlintasan, sesuai dengan kesepakatan tahun 2005. Termasuk di dalamnya masalah rekontruksi Gaza dan menghidupkan kembali sector ekonomi. KTT meminta jaminan atas pergerakan lalulintas secara utuh di perlintasan darat dan mungkin melalui jalur laut, untuk memasukan bantuan kemanusiaan ke Gaza. disamping pengawasa ketat atas pengiriman barang ke Gaza.

KTT meminta serdadu Zionis, Giladh Shalit segera dibebaskan, namun tidak memperdulikan nasib tawanan Palestina di penjara Israel.

Abduh menganggap permintaan KTT untuk mengubah kebijakannya dalam memperlakukan Gaza secara serius, yang merupakan solusi tuntas untuk kondisi Gaza, sebagai sesuatu yang baik. Tetapi, mensyaratkan semua itu dengan menghukum pihak-pihak yang memprovokasi keamanan Zionis. Sangat longgar dan tidak mengikat siapapun.

Abduh mengungkapkan keanehanya atas sikap Uni Eropa yang meminta pembebasan Shalit, tetapi pada saat yang sama tidak pernah peduli pada penderitaan tawanan Palestina di penjara Israel. (asu)
SUMBER

0 comments:

Post a Comment