Pembebasan Al-Qud dan Proyek Peradaban Islam

Wednesday, 26 May 2010

print this page
send email
Prof. Dr. Sulaiman Shaleh
Al-Quds menempati kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Baik dari sisi Aqidah, peradaban, wawasan maupun sejarahnya. Oleh karena itu, membebaskan Al-Quds dari penjajahan Roma merupakan pase yang sangat penting dalam sejarah peradaban Islam ataupun dalam perkembangan proyek pembebesan sisi kemanusiaan.

Dalam pada itu, kita dapat memahami isyarat-isyart penting terkait peristiwa yang tengah terjadi. Kita bisa mengenal symbol-simbol dan dapat menafsirkanya sendiri. Umar bin Khottob misalnya pernah mencopot kedudukan Kholid bin Walid dan menunjuk Abu Ubaidah Al-Jarrah untuk melanjutkan estapet penaklukan. Kitapun bisa memahami membebaskan Al-Quds bukan hanya kerja proyek militeris. Ini bukan hanya pertempuran antara serdadu, persenjataan ataupun pengorbanan. Akan tetapi merupakan pase penting untuk membangun peradaban Islam dan kedaulatan proyek budaya Islam.

Oleh karena itu, dengan tidak mengurangi penghargaan dan pengormatan terhadap kemuliaan serta kepahlawanan dari Kholid bin Walid, akan tetapi pertempuran tersebut juga harus didasari dan dipimpin oleh seorang yang faqih, berilmu, terpercaya, pemimpin ummat, Abu Ubaidah Amir bin Al-Jarrah.

Abu Ubdaidah adalah sosok terbaik dari proyek peradaban Islam dengan segala sisinya, bukan hanya dari sisi militer saja. Ia harus membawa tentaranya dengan kemampuan dan kefahaman sebagai tentara Islam. Maka sekjen ummat ini diharapkan dapat memimpin pertempuran sebagai bukti atas pentingnya Al-Quds. Disamping mengarahkan ummat agar menjadi pelindung bagi Al-Quds sebagai pusat peradaban. Dengan demikian tidak mungkin kita membangun kebangkitan atau menciptakan kemajuan serta melindungi kebebasan atas dasar kewajiban kita sebagai manusia, kecuali jika Al-Quds merdeka.

Kebebasan Al-Quds adalah kemuliaan bagi ummat. Disamping sebagai bukti atas keistimewaan peradaban islam serta kekuatan moral yang terkandung di dalamnya. Al-Quds pemilik misi serta pembawa historis para nabi. Selain sebagai symbol ketauhidan bagi selurh misi para nabi dan rasul.

Janganlah Tunduk Pada Kezaliman

Membebaskan Al-Quds bukanlah kerja militer saja, akan tetapi proyek Islam yang mengusung aqidah dan peradaban. Oleh karena itu, ia tidak boleh tunduk pada kezaliman serta kefasikan yang tidak tahu nilau serta kedudukanya yang penting. Al-Quds harus selalu ada dalam pemerintahan Islam dan dalam perlindunganya. Karena hanya Islam lah yang mengetahui nilai serta kedudukan Al-Quds dalam peradaban dunia.

Maka pantaslah bila yang membebaskan negeri ini adalah seorang yang faqih berilmu yang dapat mengantarkan Al-Quds sebagai proyek peradaban Islam yang dapat menuntun pertempuran. Dan menjadi kemestian yang menerima kunci pembebasannya adalah khalifah Rasulallah sallaahu alaihi wasalam, Amirul Mukminin Umar ibnu Khottob untuk mengikat perjanjian dengan penduduk Al-Quds, diantaranya pemeluk nashrani, sebagai bukti perlindungan Islam terhadap mereka. Dengan demikian kepempinan dalam proyek pembebasan Al-Quds adalah Amirul Mukiminin.

Setelah kaum muslimin dapat menaklukan Al-Quds, para prajurit Islam yang dipimpin Abu Ubaidah Al-Ajrrah, Kholid bin Walid serta sejumlah shahabat Rasulullah memakan potongan-potongan roti sambil menangis, kenapa ??.

Mungkin kita tahu kenapa mereka menangis ??. kegembiraan atas kemenangan ini serta perasaan bangga atas keberhasilan ini sebagai sebuah perasaan kemanusiaan. Dan saking gembiranya mereka menangis.

Namun, menangis bisa juga difahmai sebagai bentuk kakhawatiran dari para tentara ini atas keberhasilan mereka yang gilang gemilang. Mereka sadar Al-Quds akan menjadi poros pertempuran yang terus berlangsung antara Islam dan kekufuran hingga berakhirnya dunia ini. Mungkin nanti akan datang suatu generasi yang tidak faham Islam dan melalaikan Al-Quds. Mereka membiarkan Al-Quds dikuasai oleh orang-orang zalim, kafir serta dimurkai Allah.

Kondisi inilah mungkin, kenapa mereka hanya memakan potongan-potongan roti di hari kemenangan yang agung itu. Ini sebagai bukti, bahwa yang memerdekakan Al-Quds adalah orang-orang yang pertama kali membebaskan dirinya dari penjajahan hawwa nafsunya. Mereka tidak menuntut kenikmatan dunia. Merekah hamba-hamba Allah yang sejati. Mereka tidak mungkin menjadi hamba dari dunia yang fana ini.

Inilah pelajaran penting yang kita bisa ambil dari sikap para shahabat tersebut. Bahwa hamba dunia tidak mungkin dapat membebaskan Al-Quds. Karena mereka bisa saja melakukan perundingan secara langsung ataupun tidak langsung dalam waktu yang sangat panjang, asal mereka dapat menikmati kehidupan dunia ini. Yang dapat membebaskan Al-Quds hanyalah orang-orang yang dapat membebaskan dirinya dari perhambaan pada dunia, termasuk di dalamnya kekuasaan dan kekayaan. Mereka cukup bangga hanya dengan menjadi hamba Allah saja.

Dalam pada itu, kita juga dapat memahami, kenapa penduduk Gaza dapat bertahan cukup lama, bertahun-tahun dalam menghadapi blockade Zionis. Mereka senantiasa melawan rasa lapar, kepedihan dan berbagai keterbatasan, untuk membuktikan bahwa mereka tidak mungkin menjadi hamba dunia. Maka merekalah yang berhak dan yang akan mampu membebaskan Al-Quds.

Hati Umar Menjadi tentram

Setelah penaklukan Al-Quds oleh Abu Ubaidah, Umar meminta panglima perang tersebut ditunjukan pada rumahnya. Saat Umar masuk rumah Abu Ubaidah, hati Umar menjadi tentram, sebab di rumah itu tidak ada satupun dari perhiasan dunia. Rumahnya kosong molongpng tak ada sedikitpun tanda-tanda kekaayaan ataupun kemegahan. Dengan penuh keridloan dan kebahagian Umar berkata, demikianlah janjimu wahai Abu Ubaidah.

Dari perkataan umar tadi, kita bisa melihat Umar sebetulnya sudah tahu betul siapa Abu Ubaidah. Tapi kenapa Umar meminta Abu Ubaidah agar dibawa ke rumahnya ?.

Sebelumnya, Abu ubadah berangkat untuk menjemput Umar bin Khottob di perbatasan. Ia melihat Umar memakai pakaian yang sudah lusuh dan sedikit tetambalan. Ia melintasi genangan air, sementara pembantunya naik di atas kendaraannya yang ia naiki bergantian.

Saat itu, Abu Ubaidah khawatir penduduk Al-Quds yang terdiri dari para bangsawan Nasrani melihat Umar dengan kondisinya yang tidak layak sebagai Amirul Mukiminin. Maka Abu Ubaidah berinisiatif memberikan kendaraan dan pakaian yang layak bagi Umar. Namun niat tersebut dicegah Umar seraya berkata, apakah engkau telah berubah wahai Abu Ubaidah ??. “Kita adalah bangsa yang dimuliakan dengan Islam, jika kita menginginkan kemulian dengan selainya, maka pasti Allah akan menghinakan kita”.

Oleh karena itu, kita melihat Umar khawatir bahwa cinta dunia telah merasuki hati Abu Ubaidah. Ia khawatir Abu Ubaidah ingin mendapatkan sesuatu dari kesenangan dunia atas kedudukanya yang memang halal untuknya.

Bukankah hak bagi seorang qiyadah, pemimpin tentara yang telah berhasil menaklukan Al-Quds mendapatkan sesuatu yang layak. Makanan yang enak tidur di kansur yang empuk. Semua itu kesenangan yang halal dan Allah menyukai melihat tanda-tanda kenikmatan dari seorang hambanya. Tetapi kenapa Umar dan Abu Ubaidah melakukan semua ini ?.

Umar pun tak berniat melarang Abu Ubaidah menikmati sesuatu yang dihalalkan Allah. Namun ia ingin memastikan bahwa qiyadah yang ia pilih untuk membebaskan Al-Quds, tidak tunduk pada kehidupan dunia. Suka nampang dan menikmati kehidupan dunia tidak pernah terlintas dalam hatinya.

Mereka masih berkeyakinan bahwa perhambaan pada Allah sebagai pusat kemuliaan dan kebanggaanya. Bekerja untuk mencapai kerdihoan Allah masih merupakan satu-satunya tujuan dalam hidupnya. Proyek peradaban Islam yang menjadi target pembebasan manusian dari perhambaan selain dari Allah. Tugas kewajiban peradaban bagi seorang muslim masih jelas dalam dirinya.

Jalan Pembebasan

Membebaskan Al-Quds tidak mungkin tercapai, kecuali dengan membebaskan dirinya dari perhambaan pada dunia. Tujuan mereka untuk mencapai kehidupan dunia. Mereka juga tidak peduli dengan kemegahanya. Mereka tidak menginginkan kesejahteraanya. Mereka hanya ingin mendapat kemakmuran dengan beribadah pada Allah.

Membebaskan Al-Quds tidak mungkin terwujud tanpa proyek peradaban Islam yang mengembalikan ummat pada tugas serta tanggung jawabnya. Tugas inilah yang melatarbelakangi atau awalan menuju proyek hakiki. Masyarakat secara umum, wajib memahami semua ini. mereka harus mengenal dan bangga atas tanggung tugasnya. Setiap muslim harus bisa mengungkapkan kebanggaanya atas keikutsertaan mereka dalam memegang tugas ini. inilah tugas utama dalam hidupnya.

Israel tahu betul, kaum muslimin akan dapat membebaskan Al-Quds. Tetapi dengan cara mereka kembali kepada kemuliaan mereka sebagai pemangku tugas peradaban. Jika Islam telah membentuk kehidupan mereka dan keridhoan Allah telah menjadi tujuan hidup setiap ummat Islam. Dan ketika rumah para pemimpin mereka kosong dari gemerlapnya kehidupan dunia. Al-Quds akan terbebas jika para tentaranya hanya memakan roti kering dan setelah itu menangis serta setelah para pemimpin hanya bangga dengan Islam bukan dengan yang lainya.
Israel tahu betul masa itu akan tiba, pada suatu hari dimana ummat Islam tidak merasakan keledzatan hidup selain Islam. Merekalah yang akan membangun peradaban Islam yang menjadi tujuan mereka dalam membebaskan Al-Quds. (asy)
SUMBER

2 comments:

Post a Comment