Nakbah Torehkan Kembali Luka Lama Yang Kian Menganga

Saturday, 8 May 2010

print this page
send email
Gaza : 62 tahun berlalu, bangsa Palestina mengalami penjajahan, pengusiran, penganiayaan dan perampasan yang terus terjadi hingga kini. Siasat pembunuhan dan pembantaian terhadap hak-hak rakyat yang terisolasi tak henti-hentinya mereka lakukan.

Kelompok gerliyawan radikal Zionis terus melakukan pembantaian dan pengusiranya terhadap warga Palestina, tak terkecuali, wanita, anak-anak maupun orang tua. Mereka sudah terlatih untuk semua itu, ditengah sikap diam dunia Arab dan internasional. Dengan semena-mena mereka melakukan pembantaian demi pembantaian demi menancapkan kukunya di tanah kaum muslimin Palestina, melalui kekuatan senjata dan politik.

Semua itu tak bisa disembunyikan dari raut muka seorang kakek, Abdurrahman Garrab dan istrinya Fatimah Nasher yang menggambarkan kepedihan dan kesedihan yang silih berganti.

Mereka menyergap jalan kami untuk membunuh kami

Saat kami keluar karena takut ancaman Zionis, kami ibarat sekelompok orang yang tersesat. Tiba-iba satang segerombolan serdadu Zionis yang menghadang jalan kami dan menodongkan senjatanya ke arah kami. Saat itu, kami berjumlah delapan orang. Kami berusaha menyelinap agar tak terlihat serdadu. Akan tetapi mereka melihat kami dan langsung menembaki kami, hingga seorang wanita yang bersama kami terkapar bersimbah darah. Kami juga tak tahu bagaimana nasib wanita tadi selanjutnya. Kami berlari sekencang-kencangnya saking takutnya dari Yahudi yang memang sudah terbiasa membunuhi kami.

Mimpi Untuk Kembali Selalu Menggodaku

Fatimah Nahser dari wilayah Barbarah, masih mengingat suatu peristiwa yang menimpa dirinya bersama rakyat lainya. Ia yang memakai baju hitam-htam yang berenda bunga-bunga selalu mengungkapkan mimpi-mimpinya untuk dapat kembali ke tanah tempat tinggalnya dahulu. Baunya tanah, wanginya pepohonan dan kayu serta roti yang hangat selalu menggodaku untuk kembali ke kampungku.

Ia teringat ketika harus berlaril-lari menjauhi kebiadaban serdad dan kelompok radikal Zionis. Ia tidak bisa melanjutkan kehidupanya di wilayah Uzairiyah. Kalau mengingat itu, tak terasa air matanya meleleh mebasahai kedua pipinya yang sudah keriput dimakan usia ditambah penderitaanya yang tak pernah berhenti mengikuti dirinya. Kami dengan Yahudi memasuki kampung kami. Katanya, mereka juga membantai hak-hak para perempuan Palestina, anak-anak dan orang tua. Kami juga dengan kelompok radikal Zionis membelek wanita-wanita hamil dan membunuh bayi-bayi yang masih menyusui. Kami juga bertemu dengan para wanita yang melarikan dari kampung halamanya karena takut pembantaian Israel. Mereka mengkhawatirkan nasib anak-anak dan dirinya sendiri. Mereka lari ke Jalur Gaza. Setelah sampai di Gaza, para pemuda menolong kami dan melindungi kami untuk dapat melarikan diri. Ketika mereka kembali ke Barbarah ternyata, si pulan sudah meninggal si pulanah sudah meninggal. Mereka dibunuh yahudi dari jarak dekat. (asy)

0 comments:

Post a Comment