Futur sebab dan ilajnya

Saturday, 8 May 2010

print this page
send email
Dari Abdullah bin Umar ra bahwa Rasul Saw bersabda ’’sesungguhnya setiap amalan itu mempunyai semangat, dan setiap semangat itu ada futurnya, maka siapa yang mengalami futur tapi masih tetap diatas sunnahku pasti mendapat pentunjuk, namun siapa yang keluar darinya pasti akan celaka. (HR.Imam Ahmad Bazar).Futur adalah semacam penyakit yang bisa menimpa sebagian orang apakah ia seorang pelajar, da’i maupun bukan. Efek negatif yang dimunculkan futur sangat banyak, sekurang- kurangya orang itu akan tertimpa rasa malas, mengulur-ngulur waktu atau menunda suatu pekerjaan. Namun yang paling berbahaya adalah sirna semangatnya atau diam setelah sekian lama bergerak yang kontinyu didalam aktivitasnya.Sebab-sebab seseorang bisa tertimpa penyakit ini sangat banyak, dan bahkan bukan cuma berpengaruh kepada diri sipenderita saja, tapi juga akan membawa efek negatif terhadap dakwah dan aktivitasnya.Diantara sebab-sebab penyakit ini, adalah:* Ghulu atau Tasyaddud dalam agama.* Berlebih-lebihan dalam hal yang mubah.* Suka menyendiri serta jauh dari lingkungan berjamaah.* Jarang mengingat maut serta kejadian-kejadian alam akhirat.* Suka memakan makanan haram atau syubhat.* Menjalankan agama hanya dari satu sisi.* Sering melalaikan ajaran agama.* Kurang memenuhi hak badan, disebabkan banyaknya beban dan kewajiban yang dipikul.*Tidak adanya persiapan dalam menghadapi segala rintangan serta kemungkinan- kemungkinan yang akan terjadi sepanjang perjalanan dakwah atau aktivitasnya.* Bergaul dengan orang-orang yang lemah semangat dan kurang bergairah.* Tidak adanya persiapan serta kurang mengetahui manhaj dalam berdakwah.Semua ini akan membawa seseorang kedalam penyakit futur atau kurang semangat, bahkan terkadang bisa menjadikan lari dan meninggalkan medan dakwah. Sudah menjadi sunnatullah bahwa semua penyakit ada obatnya. Firman Allah Swt: ’’Dan kami turunkan dari al Qur’an itu sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang mukmin, dan al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang zholim melainkan kerugian” (Q.S. Al Isra’: 82)Sistem terapi dari penyakit di atas yang paling utama adalah dengan cara meninggalkan semua sebab-sebab yang ada. Disamping itu juga terdapat cara lain sebagai berikut:1. Memuhasabah diri. Memikirkan kembali tentang tujuan Allah menciptakan kita, yaitu untuk beribadah. Dan ibadah itu tidak bisa sempurna melainkan dengan ilmu. Sebagai seorang mahasiswa, sebaiknya kita memikirkan kembali apa tujuan semula kedatangan kita ketempat yang dituju. Sudah berapa lama waktu yang habis hampa tanpa arti, berapa banyak uang yang telah kita habiskan dengan sia-sia, dan berapa banyak amanah yang terabaikan. Bukankah ini semuanya termasuk maksiat kepada Allah Swt, dan durhaka kepada orang tua serta keluarga. Dengan sistem ini seseorang bisa mengetahui kekuragan dan aib-aibnya. sehingga mudah mengobati penyakit tersebut.Selalu membaca al Qur’an dan mentadaburinya. Allah talah mengajarkan kepada kita agar melakukan sesuatu dengan sistim tadaruj dalam beramal. Lebih-lebih untuk melakukan sebuah perobahan.Mari kita perhatikan bagaimana Allah Swt menciptakan langit, bumi dan apa yang ada diantara keduanya dalam enam hari, seperti itu juga dalam penetapan suatu hukum, halal atau haram seperti pengharaman khamar, riba, Allah Swt tidak menurunkan ayat pengharamannya dalam satu kali saja, tapi melalui fase-fase. Bahkan al Qur’an itu sendiri di turunkan kepada Rasul Saw bertadarruj seperti inilah sunnatullah di alam ini. Maka bila kita melakukan sesuatu itu dalam bentuk tergesa-gesa, semua itu akan membawa kepada sifat malas, yang akhirnya bisa melahirkan sifat putus asa kepada Allah Swt.Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah. ra yang pernah berkata ’’Sesunggguhnya yang pertama kali turun dari surat mufasshol, yang menyangkut masalah syurga dan neraka, ketika telah berkumpul orang-orang kedalam Islam baru turun masalah halal dan haram. Sekiranya yang pertama turun itu masalah ’’janganlah kamu minum khamar” pasti mereka akan mengatakan: ’’kami tidak akan meniggalkannya”. Begitu juga kalau yang turun itu ’’janganlah kalian berzina’’ pasti mereka akan menjawab: “kami tidak akan meninggalkan zina selama-lamanya”.3. Sering memuthola’ah kitab- kitab Shirah dan Sejarah umat Islam. Sebagaimana kehidupan mereka yang memiliki himmah yang tinggi serta semangat yang kuat, baik dalam berdakwah, atau beramal. Shirah Rasul Saw serta para Sahabatnya cukup bagi kita sebagai terapi dari penyakit ini. Allah Swt berfrman dalam al Qur’an ’’sungguh pada kisah kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang orang yang mempunyai akal.4. Berteman dengan orang-orang sholeh yang mujahid. Karena mereka memiliki jiwa yang bersih dan hati yang bercahaya serta ruh yang ikhlas, yang bisa menggerakkan semangat, menguatkan tekad serta keinginan.Rasul Saw mengalihkan perhatian kita kepada hal ini, seperti sabdanya: “Apakah kamu ingin aku beri tahu sebaik-baik manusia? ia wahai Rasulullah jawab Sahabat, kemudian Rasul melanjutkan sabdanaya ’’orang yang mengingatkanmu kepada Allah dikala engkau memandangnya”.5. Menjauhi perbuatan maksiat baik yang kecil maupun yang besar. Karena ia ibaratkan api yang membakar hati, yang akan mendapatkan murka Allah Swt dan kerugian bagi hamba tersebut, sebagaimana berfirman-Nya: ’’Dan barang siapa ditimpa kemurkaan-Ku maka sungguh binasalah dia. (Q.S Thaha: 81)6. Menghadiri majlis- majlis Ilmu. Karena ilmu adalah sumber kehidupan bagi hati, sebagaimana makanan sumber untuk kekuatan badan dan ibaratkan air bagi bumi.Kita melihat bagaimana ghirah dan himmah para- ulama salaf dalam menuntut ilmu, karena mereka sangat mengetahui hajat seorang hamba kepada ilmu, Rasul Saw masih Allah Swt ajarkan bagaimana supaya mendapat ilmu Imam Ahmad pernah berkata: ’’Sesungguhnya kebutuhan kita kepada ilmu melebihi makanan dan minuman, karena keduanya cukup dua atau tiga kali sehari, tapi ilmu sebanyak tarikan nafas.7. Bergabung dalam suatu jamaah dan meninggalkan hidup menyendiri, sebagaimana yang pernah dipesankan Rasul Saw ’’Jamaah itu adalah rahmat,sedangkan berpecah belah adalah suatu azab. Imam Ali ra pernah juga berkata: ’’Kekotoran suatu jamaah jauh lebih baik ketimbang kesucian seorang diri”. Karena ketika bersama mereka akan memberi tahu kekurangan serta aib-aib kita, kemudian menunjukkan kita bagaimana cara membersihkannya kembali. Berbeda dengan kehidupan seseorang yang selalu menyendiri, bahkan kadang kala penyakit tersebut bisa mencelakannya.8. Sering mengingat mati, pertanyaan alam kubur, kegelapan serta kengeriannya. Karena hal ini bisa menbangunkan jiwa dari tidurnya serta menggerakkan badan untuk beramal dan mempersiapakan bekal menghadapi semua itu. Pernah Rasul Saw ditanya tentang siapakah orang yang jenius itu? jawab Rasul: ’’orang yang banyak mengingat mati dan mempersiapkan untuk itu.”Umar bin abdul aziz yang mempunyai perkumpulan setiap malam dengan para ahli fikih, yang disana mereka saling bercerita tentang mati dan alam akhir kemudian mereka menanggis.9. Menjauhi sikap Tasyaddud dalam agama. Ibunda Aisyah ra pernah berkata: ’’Dulu Rasulullah memiliki sebuah tikar yang ia bentang disiang hari dan dijadikan untuk kamar disebagian malam hari untuk shalat, lalu orang-orang shalat bersama beliau, pada suatu malam mereka berkumpul lalu Rasul Saw bersabda: ’’wahai manusia hendaklah kamu mengerjakan amalan semampu kalian, karena sesungguhnya Allah tidak akan pernah bosan selagi hamba tersebut tidak bosan, sesungguhya amalan yang paling Allah cintai adalah yang selalu dikerjakan sekalipun sedikit. Dan keluarga Muhammad apabila mengerjakan suatu amalan mengukuhkannya.”Dalam hadits-hadits yang lain yang sangat banyak sekali menceritakan tentang ketekunan dalam beramal dan tidak terlalu berlebih- lebihkan yang tidak sanggup mengerjakannya.Untuk itu kita dituntut agar selalu mengikuti manhaj Rasul Saw dalam segala amal kegiatan dan tuntunan Islam, karena ketidakstabilan itu yang sering menimbulkan penyakit futur. Wallahu ’alam. (Oleh: Muhammad Afrizal. Lc).

0 comments:

Post a Comment