Bukan Taliban, Bukan Erdogan, Tapi Hamas (1)

Sunday, 23 May 2010

print this page
send email
Faris Adl-Dlahir
Tesis Prof. Yazid Shayi’ berjudul “Tiga Tahun Pemerintahan Hamas di Jalur Gaza” yang diterbitkan oleh Pusat “Karawan” Studi Timur Tengah di Universitas Brandez yang kemudian diterjemahkan oleh Pusat Studi Zaitun menegaskan bahwa elit-elit Hamas menampik niatnya menerapkan proyek Islam di Jalur Gaza secara paksa. Elit Hamas menegaskan, bahwa contoh pemerintahan yang dicitakan Hamas adalah Turki yakni pemerintahan Partai Keadilan dan Pembangunan bukan contoh Pemerintahan Taliban. “Erdogan, Bukan Taliban.” Simpul elit Hamas itu. Bahkan Prof. Yazid Shayi’ menambahkan saat mamaparkan politik komperhensif dalam memerintah Jalur Gaza dengan sub judul “Erdogan atau Taliban”.

Meski tidak menyebutkan pasti kutipan elit Hamas yang mana, namun Prof. Shayi’ menyebutkan Dr. Ahmad Yusuf dan Dr. Ghazi Hamd sebagai pendukung orientasi ini. Namun penulis tidak pernah mendengar atau menulis kutipan di atas berasal dari Dr. Ghazi. Penulis hanya pernah membaca tulisan Dr. Ahmad Yusuf di Koran Al-Quds soal kedekatan platform politik Hamas dengan platform Erdogan. Bahkan Hamas mengungkap kekagumannya dan ingin mengkloningnya di Palestina. Penulis juga pernah mendengar Dr. Ahmad Yusuf menyatakan dalam seminar yang digelar Hamas di Rafah bahwa Hamas sering menyatakan kepada dunia internasional bahwa dirinya satu jalan dengan PM Turki Receb Taeb Erdogan dan bukan jalan yang ditempuh gerakan Taliban. Meski penulis tidak mendengar langsung dari Dr, Ahmad Yusuf, maka belum bisa dipastikan bahwa maksudnya ingin membatas contoh pilihan Hamas; Taliban atau Erdogan, tidak ada yang ketiga. Barangkali beliau hanya ingin menegaskan keluwesan dan fleksibelitas Hamas. Ini dilakukan Hamas untuk menjelaskan kepada barat yang sebagiannya tidak bisa memahami Hamas. Di tambah lagi kampanye media Arab, Israel, barat dan otoritas Fatah bahwa Hamas ingin mendirikan pemerintahan “kegelapan” di Jalur Gaza.

Ada kesalahan teoritis dan sistematis dalam pendekatan ini hitam putih saja dalam kasus Islam. Seakan hanya ada dua contoh yang kontradiksi sama sekali, tak ada tengah-tengahnya. Cara pandang seperti ini tidak bisa diterima. Apalagi dalam dunia politik dan pemikiran yang luwes. Jika tidak Erdogan apakah harus selalu Taliban, atau sebaliknya. Siapa yang mau menerima logika seperti ini dan menjadikan sesuatu yang dijadikan Allah luas dan luwes menjadi sempit. Apakah benar Hamas, kalau tidak Taliban berarti Erdogan.

Padahal kasus Islam pada dasarnya lebih kaya dan berfariasi dalam bidang pemikiran dan platform politiknya yang bisa melampaui dua contoh di atas. Kenapa misalnya tidak kita anggap eksperimen pemerintah Sudan. Padahal elit Partai Keadilan Turki pun menampik karakter Islam dari partainya dengan makna di atas, bahkan menegaskan partainya sekuler.

Di level realitas, eksperimen Taliban dan Erdogan menunjukkan bahwa kedunya membangun sistemnya di atas miluinya yang khusus setelah mereka melakukan kajian kritis dan menentukan pilihannya bahwa mereka harus memulainya dari miliu itu. Keyakinan fiqih dan persepsi pemikiran Taliban tidak mengakar di miliu Afganistan atau miliu benua kecil Hindia secara umum. Fiqih Taliban adalah fiqih madrasah Dibandiyah Hanafi yang tersebar di benua kecil Hindia yang diterapkan secara strike. Secara fundamental Taliban berbeda dengan para sekutunya dari kelompok jihadiyyin Arab yang menolak – karena akidah salafiyahnya – pemikiran akidah Maturidiyah Taliban dan sikapnya menyuburkan tasawuf yang tersebar di Afganistan secara umum.

Di level politik, Taliban bertentangan dengan sekutunya dari kalangan Jihadiyyin Arab ketika (Taliban) menggelar hubungan diplomasi di awal-awal pemerintahannya dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Pakistan. Sikap Taliban ini bertentangan dengan prinsip Al-Qaidah yang lebih dikenal sebagai Salafi Jihadi yang menilai negara-negara itu sebagai thagut. Taliban sendiri di PBB mengakui negara-negara itu dimana Al-Qaidah menganggap PBB juga thagut. Taliban juga memiliki Menlu dan dubes serta diplomat yang berusaha membuka akses dengan pihak yang dianggap Al-Qaidah sebagai rel thagut dan kafir. Taliban juga mengakui penjajahan Amerika. Setelah itu Taliban hanya membatasi jihadnya di Afganistan. Ini berbeda dengan Al-Qaidah dan Taliban (cabang) Pakistan.

Jadi, Taliban membangun miliunya dan bukan produk pemikiran luar yang diterapkan di masyarakat Afganistan. Ia tidak bisa dikritisi sama sekali dengan melupakan landasan penting ini. Pandangan ini bisa diterapkan kepada eksperiman Erdogan yang berusaha merangkum semua pengalaman Islam Turki di masa lalu dalam konflik panasnya dengan system sekuler unik yang sangat keras, berpengaruh. Masyarakat Turki sangat kebarat-baratan. Hubungan mereka dengan agama bisa dibilang hanya sebatas simbolis formal dari memandikan mayit, menguburkannya sesuai dengan Islam, membaca Al-Fatihah di kuburannya. Sementara hubungan mereka dengan masyarakat Eropa yang Kristen begitu kental. Sebuah kasus yang tidak ada sama sekali di dunia Arab. Meski kebanyakan masyarakat Arab yang terpengaruh dengan westernisasi, sikap beragama masih begitu kental di segala bidang. Bahkan di negara Arab yang bebas sekalipun, namun mereka masih menjaga batasan-batasan Allah dan syiar ibadahnya.

Namun di level politik resmi pemerintahan, hampir tidak ditemukan konstitusi Arab yang mengundangkan Islam sebagai sumber asasi hukumnya. Para pemimpin di negara yang menunjukan gaya hidup barat dan sikap politiknya yang menjauhi gerakan Islam dan loyal kepada barat, kita temukan mereka tetap berusaha menunjukkan Islam dengan cara lain. Pemimpin di Maroko disebut Amirul Mukmimin dan menjaga ajaran-ajaran Hasan. Pemimpin di Libia memimpin shalat dalam beberapa kesempatan dan berkhutbah dan memiliki pendapat entan tentang Islam dan fiqih. Pemimpin Saudi adalah Pelayan Dua Kota Suci. Pemimpin Jordania adalah keturunan keluarga Rasul dan pelayan Masjid Al-Aqsa. Di semua negara Arab – termasuk Tunis – para pemimpinnnya berusaha menampakkan Islamnya dan religinya dalam bentuk lahir formil. Ini yang tidak kita temukan di Turki. Ini jika kita dukung anggapan bahwa Erdogan membawa proyek Islam yang berusah memulai kehidupan Islam di Turki dengan metode yang berbeda yang ‘bersembunyi di balik sekularisme dengan alasan menjaga karakter khusus Turki. Namun ini hanya analisis bukan pemastian yang didasarkan kepada emosional, harapan, simpati yang bersumber prasangka baik.

Sekedar seruan mengkloning pengalaman tanpa memperhatikan perbedaan-perbedaan kondisi Turki dalam segala bidangnya dan kondisi masyarakat Arab secara umum, termasuk Palestina, maka itu hanya seruan lugu yang kehilangan jatidiri dan ideology. Seakan anak muda yang silau dengan eksperimen Partai Keadilan dan Pembangunan (eksperimen Erdogan). Padahal Erdogan sendiri memiliki banyak kritikan terhadap sebagian politik Hamas. (bersambung)
SUMBER

1 comments:

Post a Comment